Tak Perlu Panik, Ini Kiat Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi

Home / Gaya Hidup / Tak Perlu Panik, Ini Kiat Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi
Tak Perlu Panik, Ini Kiat Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi ILUSTRASI - Anak minum susu. (FOTO: Generasi Maju)

TIMESBANDUNG, JAKARTAAlergi susu sapi adalah kondisi di mana sistem imunitas tubuh memberikan respons yang berlebihan terhadap kandungan protein di dalam susu. Anak yang mengalami alergi susu sapi biasanya akan menunjukkan gejala berupa gatal-gatal, muntah, napas berbunyi atau mengi, juga gangguan kesehatan lain seperti gangguan pencernaan.

Jangan panik jika anak Anda alergi susu sapi. Dilansir dari Alo Dokter, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.

1. Hindari memberikan susu sapi ataupun makanan yang mengandung susu sapi.

2  Hindari produk susu dan olahan susu, jika Si Kecil masih meminum ASI. Sebab, protein susu yang menyebabkan alergi dapat ke dalam ASI, dan akan berbahaya jika diminum olehnya.

3. Jika Anda memberikan Si Kecil susu formula, ganti susu anak dengan susu formula berbahan dasar kedelai.

4. Jika Si Kecil alergi terhadap susu kedelai, biasanya dokter akan memberikan susu formula hipoalergenik.

2. Siasati Nutrisinya dengan Cara Ini

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak mengonsumsi susu sapi cenderung mengalami kekurangan vitamin D. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena itu bisa disiasati dengan memberikan makanan yang kaya akan vitamin D, serta mengandung kalsium dan protein. Makanan yang kaya akan vitamin D antara lain adalah bayam, brokoli, produk olahan kedelai, ikan salmon, tuna, sarden, dan telur.

Selain itu, Anda juga bisa mengajak anak bermain di luar ruangan pada pagi hari, agar terkena paparan sinar matahari. Pada saat terpapar sinar ultraviolet B (UVB), tubuh anak Anda akan membentuk vitamin D. Dengan hanya terpapar sinar matahari pagi selama 10-15 menit, sebanyak tiga kali seminggu, sudah cukup untuk membuat anak Anda mendapatkan cukup vitamin D.

Sekalipun anak didiagnosis memiliki alergi susu sapi, janganlah menyerah dalam memenuhi nutrisi yang dibutuhkannya. Cobalah untuk lebih kreatif dalam memberikan alternatif atau makanan pengganti, agar pertumbuhan dan kesehatan anak tetap terjaga. Jika perlu, konsultasi ke dokter untuk penanganan yang tepat. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com