Menakar Kekuatan Media Sosial

Home / Kopi TIMES / Menakar Kekuatan Media Sosial
Menakar Kekuatan Media Sosial Putra Mangaratua Siahaan, S.Sos, Pemerhati Sosial Politik, Alumnus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBANDUNG, TANJUNGBALAI – Akhir-akhir ini banyak sekali Facebook pasangan calon kepala daerah di tempat saya bermukim Tanjungbalai Sumatera Utara, meminta pertemanan di Facebook kepada saya. Saya salah satu diantara ribuan akun media sosial Facebook yang diminta permintaan pertemanan .

Banyak cara dilakukan calon kepala daerah untuk menggaet masyarakat agar nyaman berteman dan diterima kehadirannya di medsos Facebook. Misalnya melakukan kuis dan lain sebagainya. Hal-hal demikian saya pikir sangat kreatif dan efektif. 

Selain menyampaikan pesan visi dan misi dan program-programnya, akun-akun ini juga saya anggap juga membantu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam hal sosialisasi kesadaran berdemokrasi, biasanya akun-akun facebook ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat akan kesadaran agar tidak golput. 

Media sosial (Medsos) saat ini merupakan media paling efektif dalam berinteraksi antar manusia. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya memberi dampak positif dalam menjalin silaturahmi antar individu dan kelompok masyarakat.

Menurut pengalaman penulis, orang yang awalnya saling komentar dan berinteraksi di media sosial akan lebih mudah melakukan pendekatan personal di dunia nyata. Karena di media sosial, seseorang dapat lebih terbuka dalam menerima teman baru dan lebih mudah memulai interaksi dengan orang yang baru dikenal.

Mudahnya jangkauan media sosial, membuat media sosial sebagai sarana paling efektif dalam melakukan kampanye politik kepala daerah. Sasaran yang jelas, mudahnya melakukan promosi visi misi membuat media sosial makin diminati dalam menyampaikan pesan-pesan politik untuk dapat diterima masyarakat.

Media sosial turut andil dalam memberi warna baru pada dunia politik saat ini. Fenomena medsos sebagai kekuatan politik mulai terlihat sejak Pemilu 2014, meskipun jauh sebelum itu, medsos sudah sering digunakan untuk menggiring opini publik dalam hal kebijakan politik baik dari Pemerintah maupun tokoh dan Partai Politik.

Sebagai pendidikan politik, peran medsos merupakan hal positif, namun seiring meningkatnya pengguna internet dan keefektifan yang tinggi, hal ini bisa berubah menjadi sebuah ancaman. Nilai positif dan negatifnya seimbang. Tergantung dari mana kita menyikapinya.

Berdasarkan hasil riset  Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Jumlah Daftar Pemilih Tetap pada tahun 2019 berjumlah sekitar 192 juta jiwa. Berdasarkan jumlah tersebut, wajar rasanya penggunaan media sosial sebagai sarana senjata kekuatan politik memang merupakan suatu kewajiban.

Munculnya Buzzer

Seiring tingginya peran medsos dalam pengiringan opini di dunia politik, maka bermunculan buzzer-buzzer. Buzzer adalah orang-orang yang melakukan pembelaan atau sebaliknya yang mendukung suatu paham atau kelompok politik tertentu. Mereka biasanya menggunakan akun-akun anonim. Bahkan kadang ada juga yang tergolong buzzer menggunakan akun asli, tapi orang-orang seperti ini biasanya tidak mau digolongkan dalam kategori buzzer. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka tergerak sendiri melakukan kritikan atau sebaliknya. Tergantung kearah mana buzzer mengarahkan suaranya.

Kehadiran buzzer saat ini sangat unik. Buzzer kadang membela mati-matian, bahkan ada juga buzzer yang mengkritik secara massif. Yang jelasnya buzzer memiliki misi tertentu untuk melakukan serangan-serangan di medsos. Buzzer biasanya mengaku bahwa mereka tidak dibayar dan melakukan sepenuhnya berdasarkan sukarela. Biarpun begitu publik bisa menilai semuanya.

Yang sangat merugikan ialah ketika munculnya buzzer hoax. Buzzer hoax ini yang sering membuat kegaduhan. Masyarakat yang sempat termakan hoax akibat ulah buzzer makin memperkeruh suasana. Tak jarang hoax itu malah dianggap benar. Sewaktu pemilu 2019 buzzer hoax pernah dibekuk aparat kepolisian. Tanpa alasan yang jelas mereka menyebarkan hoax “Server KPU disetting menangkan Jokowi”.

Rawan Hoax

Media informasi yang bertransformasi dalam media dalam jaringan atau media daring sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Dengan medsos masyarakat bisa langsung menyebarkan berita tanpa harus memiliki perusahaan pers. Sangat praktis dalam menyampaikan ide dan berita saat itu juga. 

Namun di tengah sifat praktis yang dimiliki medsos, ia juga memiliki banyak kekurangan. Salah satunya ialah, mudahnya menerbitkan hasil pemikiran dan tulisan tanpa cek kebenarannya.

Pendidikan masyarakat juga berperan dalam menentukan apa yang dibaca dan menyebarkannya. Tingkat pendidikan yang belum merata secara keseluruhan  menentukan dalam hal menyerap informasi dari medsos. Cerdas dalam menyampaikan postingan medsos sangat diperlukan, jangan menelan bulat-bulat apa yang disajikan medsos. 

Banyak kebijakan yang terpengaruh dengan pembentukan opini yang dilahirkan medsos. Pengaruh media sosial sangat dibutuhkan mengingat begitu besarnya kekuatan yang dimiliki, kemudian banyak kelompok kepentingan yang memainkan isu-isu hangat dalam wadah media sosial sebagai pengiringan opini publik.

Komunikasi bisa terjadi ketika public sphere (ruang publik) dibuka dengan luas. Public sphere, adalah suatu konsepsi yang diberikan oleh Jurgen Habermas seorang filsuf dari Jerman terkait suatu ruang yang merdeka bagi individu dalam menyampaikan pendapat tanpa intervensi dari pihak manapun. 

Medsos kini telah menjadi ruang publik. Beragam kasus dan peristiwa yang kemudian muncul di medsos dengan mudah menjadi pusat perhatian, kemudian semua orang bisa berbicara menuangkan pokok pikirannya terhadap suatu kasus. Mulai dari praktisi akademisi, ibu rumah tangga, pejabat, hingga tukang bakso pun dengan bebas menanggapi isu-isu yang jadi pembahasan. Tak ada sekat antara semua jenis pekerjaan untuk dapat memberikan tanggapan. Akibatnya medsos telah jadi ruang publik dan dimanfaatkan sebagai pembentukan opini.

Sudah sangat sering kita mendengar orang yang masuk penjara dikarenakan kebablasan dalam menggunakan medsos. Mulai dari menyebarkan hoax sampai pada ujaran kebencian. Dapat kita lihat yang melakukan itu bukan hanya dari satu golongan masyarakat saja. Dosen sampai ibu rumah tangga ada yang tersandung kasus demikian.

Gunakan media sosial seperlunya sesuai kebutuhan. Harus cerdas menanggapi suatu peristiwa di medsos. Jangan jadikan medsos sebagai sarana satu-satunya dalam memperoleh informasi. Dan yang paling penting jangan Baper ketika membaca dan menilai suatu peristiwa. (*)

***

*)Oleh: Putra Mangaratua Siahaan, S.Sos, Pemerhati Sosial Politik, Alumnus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com